Minggu, 24 Februari 2013

Kamu

Selalu bingung dengan keadaan yang tidak adil. Kalau aku yang menghilang, kamu marah-marah nggak jelas, kalau kamu yang menghilang apa pernah aku marah-marahin kamu? Kalau aku mention ditwitter sama laki-laki lain kamu marah tanpa sebab, kalau kamu yang mention dan bbman sama perempuan lain apa pernah aku larang? Selalu itu yang membuat kita harus berantem tiap malam. Belum lagi mendengar semua kecurigaanmu, kata-kata kasarmu, dan tuduhan-tuduhanmu yang aku pun nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba berubah menjadi tidak jelas seperti itu. Aku cuman pengen kamu berubah, tapi aku bingung bagaimana menyampaikannya ke kamu, karena akupun nggak ngerti kamu harus berubah kaya gimana. Sekarang aku benar-benar bingung harus gimana. Aku maunya tetap sama kamu, tapi aku capek kalau harus menangis terus setiap malam karenamu. Sebenarnya aku takut kehilanganmu, tapi akhir-akhir ini aku sudah mulai terbiasa sendiri tanpamu. Kenapa kita nggak bisa seperti mereka yang selalu bahagia? Mereka mungkin juga pernah bertengkar seperti kita, tapi pertengkaran itu yang membuat mereka semakin saling menyayangi bukannya semakin jauh seperti kita. Mungkin kamu nggak akan pernah tahu apa yang aku rasain sekarang, Terimakasih karena kamu sudah bikin aku tertawa, menangis, dan jatuh cinta.

Sendiri Bukan Berarti Jomblo

Bad habbit gue itu adalah tweeting all the time. Kalau kata temen-temen gue sih, gue itu ngetweet everywhere and everytime. Mungkin followers gue juga udah bosen kali ngeliat gue-gue mulu yang muncul ditimeline mereka, ya mau gimana lagi, itulah gue. Masih seputar twitter, semua juga tau kalau malam mingguan terus kerjaannya ngetweet kalau nggak jomblo ya LDR, ya nggak? Tapi menurut gue nggak semua kaya itu, gue contohnya. Gue punya pacar, tapi gue selalu beredar ditimeline setiap malam minggu (walaupun hari biasanya juga) hehehe. Nggak tau kenapa, udah 3 minggu yang terlewati malam minggu gue berturut-turut kelabu banget. Sering iri sih ngeliat temen-temen kos gue yang dijemput sama cowonya di depan pos ronda, pengen rasanya gue teriak dari atas "Mbak, boleh gabung?" tapi takut gue kena smackdown itu orang (berhubung temen gue ini kakak tingkat yang berbadan besar di kampus gue). Udah ah, ngapain jadi ngomongin si badan besar sih. Nah, intinya gue cuman pengen cerita kalo nasib gue itu sama kaya para jomblo cuman beda status aja. Kalau gue lagi pilu, biasanya cuman bisa nangis sambil ngetweet dalam kamar. Temen gue banyak, tapi kalau dicari saat lagi keadaan pilu gini, kadang-kadang susah nemunya, itu yang bikin gue jadi sama nasibnya sama para kaum  jomblo. Hasssss *sigh* sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi yang kutahu hanyalah menyambung nyawa. 

Pilu dalam Sepi

Semua seakan pergi dan tidak peduli
Lebih baik aku pergi daripada tersiksa sepi
Akan kembali jika aku benar berarti
Jangan mencari aku jika itu tak perlu
Karena aku hanya akan datang jika kau rindu
Tidak perlu kau kira aku tidak cinta
Aku pergi juga karenamu
Karenamu yang selalu membuatku pilu!